![]() |
| Dipajang meja kantor cukup menawan |
![]() | |||
| Tutup dibuka tampak atas terlihat lobang penyimpan Abu Jenazah |
GUCI PENYIMPAN ABU JENAZAH ini di ukir sisi kanan dan kiri berbentuk kepala NAGA begitu pula dengan tutup Guci. Apasih maksud dari ukiran naga, hmmmm....saya belum tau pasti tapi sedikit cari tau tentang Naga itu sendiri, dari sekian posting yang saya ambil mengisahkan bahwa Naga sejenis mahluk hidup yang terkesan mistis, tetapi di dunia terdapat bentuk penampakannya yang sangat nyata. Dari perhiasan giok dan tembikar di zaman kuno hingga ke kerajinan tangan, bangunan dan busana di dalam kehidupan, kebudayaan naga sudah terpateri di dalam bersantap, berpakaian, bertempat tinggal dan berperilaku orang Tionghoa. Namun dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan empiris zaman sekarang, naga telah menjadi dongeng zaman kuno dan hanya melambangkan totem yang membawa rejeki.
Beberapa tahun ini dalam
beberapa kasus, naga telah menampakkan dirinya di hadapan manusia,
mendobrak bingkai batasan ilmu modern, juga telah menggugah bagian
memori peradaban Tionghoa yang terdalam.
![]() |
| Ditutup kembali buat pajangan nampak Cantik |
Ketika
ada orang melihat dengan mata kepala sendiri penampakan naga yang
langka itu, orang kuno menganggapnya sebagai peristiwa besar yang patut
dicatat yang kemudian disimpan di kantor pemerintah daerah setempat atau
di dalam kitab sejarah authentic setiap dinasti. Sedangkan orang zaman
sekarang menanggapi penampakan naga dengan sikap skeptic dan curiga
berat, dan berusaha mengartikannya sebagai gejala alam dan sebagainya.Barangkali
masalahnya bukan terletak pada naga itu sebetulnya kenyataan atau
rekayasa, ia lebih terletak pada perasaan sekejap pada manusia.
Misteri Naga Zaman Kuno dan Kini
Naga,
seekor makhluk misterius, sepertinya tidak eksis, tapi secara luas
dikenal di sekeliling kehidupan kita. Meski kitab kuno Tiongkok
terkadang ada menggambarkan naga, namun terpengaruh oleh iptek yang
empiris, orang zaman sekarang menganggapnya sebagai dongeng belaka.
Belakangan ini sesekali tersiar sang naga bermunculan di dunia, apakah
sang naga nyata atau semu telah menjadi topik hangat lagi. Tak
tahu apakah Anda pernah memikirkan sebuah pertanyaan: Di dalam 12 shio
Tiongkok, 11 macam diantaranya adalah binatang yang sering terlihat,
kenapa hanya naga (龍, long, baca: lung) yang berada di urutan ke lima,
adalah semacam makhluk hidup yang tidak nampak eksis di dalam realita?
Makhluk yang bernama naga ini, dengan Kirin dan burung Hong dari Tiongkok dan Einhorn,
ikan duyung di dalam konsep manusia zaman sekarang, pada dikategorikan
jenis makhluk penuh khayal yang tidak eksis dan imajinatif.
Mari
kita renungkan lebih mendalam, kenapa orang zaman kuno bisa
mengimajinasikan makhluk dengan bentuk semacam ini? Yang disebut khayal
semestinya sangat bervariatif, setiap imajinasi orang tidak terlalu
sama, namun yang patut diperhatikan ialah, sejak zaman kuno, bentuk
fisik naga cukup seragam, tak peduli di kuil, istana, buku, lukisan dan
patung, semuanya dilukiskan dengan mirip sekali.
Bentuk
naga di dalam hasil karya pahatan Tiongkok adalah sangat rinci dan
jelas, tanduk naga bagaikan tanduk rusa, sisik naga mirip sisik ikan
mas, cakar naga mirip cakar elang, tubuh naga mirip tubuh ular.
Makhluk
yang kelihatannya fiktif, di dalam dunia manusia ternyata terdapat cara
pemunculan yang agak nyata. Di antara semu dan nyata, membuat orang
merasa bimbang dan ragu.
Akan
tetapi, sebuah dongeng pada saat awal terjadinya, sangat mungkin bukan
dongeng, melainkan peristiwa yang betul-betul telah terjadi. Akan tetapi
karena sudah berlalu sekian lamanya, memori orang-orang tentang situasi
waktu itu semakin lama semakin kabur, semakin melangkah lagi ke depan,
maka dianggaplah sebagai dongeng.
Sebetulnya
di dalam kitab kuno terdapat cukup banyak catatan sejarah tentang
“naga muncul di antara manusia", dibawah ini akan dibahas lebih lanjut.
Catatan sang naga di dalam kitab kuno Tiongkok
Di
dalam pencatatan sejarah otentik pada pemerintah lokal di berbagai
daerah Tiongkok, penampakan naga sesekali terjadi dan kebanyakan dicatat
di dalam kitab sejarah tersebut. Di bawah ini secara ringkas dipetik
beberapa bab mengenai naga dari sumber kitab Tiongkok kuno.
Kasus Hua Yang Guo Zhi
(華陽國志) pada rol ke-3 tercatat: “Pada zaman dinasti Han Timur (25-220),
24 tahun masa pemerintahan Jian An, naga kuning menampakkan diri di Wu
Yang Chi Shui (武陽赤水), setelah tinggal 9 hari ia menghilang.”
Catatan ke-9 pada kitab Jin Shu
(晉書) dikisahkan di gunung Naga terjadi penampakan masing-masing seekor
naga hitam dan naga putih, kala itu kaisar Mu Ronghuang (慕容皝) dari
negara Yan awal (前燕, abad ke 4) setelah mendengar berita tersebut,
lantas memimpin para pejabatnya pergi ke gunung Naga, berdiri dengan
jarak 200 langkah menyaksikan dari jarak dekat.
Kedua
naga tersebut badannya saling membelit di udara, sesudah saling
bermain-main di angkasa untuk sesaat kemudian baru terbang menjauh. Mu
Ronghuang setelah menyaksikan adegan tersebut, hatinya sangat riang,
sekembalinya ke istana lantas mengeluarkan maklumat amnesti di seluruh
negeri. Istana yang baru terbangun dinamakan istana Kedamaian Naga dan
mendirikan sebuah kuil Buddha Long Xiang di atas gunung Naga
tersebut.
Pada
zaman dahulu juga tidak setiap saat bisa melihat naga, maka penampakan
naga pada umumnya dipandang sebagai pertanda rejeki besar. Kaisar Mu
Ronghuang dari Yan awal sesudah melihat dengan mata kepala sendiri dua
naga terbang dan bersenda-gurau, ia beranggapan ini adalah pertanda
rejeki yang ditunjukkan oleh sang Pencipta, lantas mengumumkan amnesti.
Urusan
kenegaraan besar seperti amnesti semacam ini semestinya bukan urusan
sepele atau dapat diputuskan dengan sembrono, maka itu pencatatan ini
seharusnya memiliki tingkat keandalan yang cukup tinggi.
Pencatatan dari kitab Xuan Shi Zhi
(宣室志) dari zaman dinasti Tang (618-907) menjelaskan tentang sebuah
kejadian penampakan naga. Terdapat kumpulan massa cukup besar dalam
waktu bersamaan dengan mata kepala sendiri menyaksikan penampakan sang
naga.
Selain
itu, naga memiliki hubungan cukup erat dengan perubahan cuaca, tempat
yang dilalui naga kadangkala membawa air hujan. Ini juga sesuai cerita
dongeng tentang raja naga bertanggung jawab akan turunnya hujan.
Kitab Jia Xing Fu Zhi, Xiang Yi Zhi (嘉興府志,祥異志) dari zaman dinasti Qing (1616-1911) mencatat sebagai berikut:
“Di
kabupaten Ping Hu ada naga putih terbang di atas laut, sinar merah yang
dipancarkannya mewarnai separuh cakrawala, kala itu Chen Maoxiao (沈懋孝)
mencatat, naga tersebut kepalanya setengah menunduk, di tengah kedua
tanduknya, berdiri seorang Dewa berbusana ungu dan mengenakan mahkota
emas, tubuhnya setinggi satu kaki, tangannya menggenggam pedang. Di
bawah kepala naga terdapat seberkas sinar mutiara yang cemerlang,
berbentuk bulat, sebesar cawan.”
Di
banyak hasil karya seni naga pasti terdapat “mutiara naga”, pencatatan
ini telah menggambarkan penampakan mutiara naga dan bentuk
eksistensinya.
Pada
zaman kuno terdapat cukup banyak catatan tentang penampakan naga, pada
artikel ini karena keterbatasan ruang maka tak dapat ditampilkan satu
persatu.
Manusia
zaman dahulu dan sekarang di dalam konsepnya terdapat perbedaan besar,
orang kuno menghormati dan takut kepada sang Pencipta, sedangkan manusia
sekarang hanya percaya iptek.
Di
dalam konsepnya terdapat kesenjangan besar yang menyebabkan penuturan
dan penjelasan terhadap suatu permasalahan yang sama barangkali bisa
sangat berbeda.
Pada
saat ada orang melihat dengan mata kepala sendiri penampakan sang naga
yang langka. Orang kuno memandangnya sebagai kejadian besar dan layak
dilakukan pencatatan serta disimpan di kitab kabupaten lokal, bahkan ada
yang dicatat di dalam buku sejarah otentik dinasti.
Sedangkan orang zaman sekarang mengenai penampakan naga langsung akan bereaksi curiga berat, dan berusaha menerangkannya dengan fenomena alam dan lain sebagainya.
Sedangkan orang zaman sekarang mengenai penampakan naga langsung akan bereaksi curiga berat, dan berusaha menerangkannya dengan fenomena alam dan lain sebagainya.
Berita ganjil kasus penampakan naga di zaman kuno
Peristiwa
penampakan naga apakah terbatas hanya terjadi pada zaman dahulu saja?
Sesudah dinasti Qing (baca: jing), apakah naga sudah lenyap?
Kenyataanya
ialah, selama 100 tahun belakangan ini, penampakan naga masih saja
sering terjadi, orang yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri ada
yang bersedia menjadi saksi mata. Di bawah ini contoh kasus peristiwa
ganjil penampakan naga di dunia manusia yang terjadi beberapa tahun
belakangan ini.
Peristiwa naga jatuh di Ying Kou
Berita “Sheng Jing Times” ketika peristiwa naga jatuh di Ying Kou. (Foto dari internet)
Pada musim panas tahun 1934, di wilayah Ying Kou (營口), timur laut Tiongkok, telah terjadi naga misterius jatuh dari langit.
Menurut
penuturan saksi mata, wujud dan rupa naga itu persis sama dengan yang
lazim berada di dalam lukisan. Sesudah naga tersebut jatuh di tanah
nampaknya ia sangat lemah dan meronta dengan penderitaan di atas tanah.
Matanya tak dapat dibuka, ekornya tergulung dan dua cakarnya berada di
depan. Setelah tubuhnya mengeluarkan air, badannya semakin lama semakin
kering dan mulai membusuk.
Rakyat
kala itu pada umumnya menganggap naga adalah makhluk rejeki, semua
orang hendak membantu naga yang terjatuh itu balik dengan segera ke
langit.
Sebagian
mendirikan atap dari tikar untuk melindunginya dari sengatan matahari,
sebagian lagi memikul air mengguyurkannya ke tubuh sang naga, agar
tubuhnya terhindar dari dehidrasi. Ada sejumlah biksu dan pendeta Dao
berdoa di sebelahnya.
Gerakan
merawat sang naga tiada hentinya berlangsung beberapa hari hingga suatu
hari sesudah hujan badai reda, naga tersebut sekonyong-konyong lenyap
dengan misterius.
Namun
setelah lewat 20 hari lebih, sisa jasad naga tersebut (hanya tersisa
kerangka dan sejumlah kecil daging busuk), di dalam semak alang-alang
berjarak 10 km dari hilir sungai Liao dan me-ngeluarkan bau busuk
menyengat.
Peristiwa
itu setelah terjadi, menimbulkan kehebohan, orang-orang membahasnya
dengan antusias. Sheng Jing Times (盛京時報) kala itu memberitakan dengan
judul:
“Salah
satu penelitian naga jatuh di Ying Chuan: pernyataan Profesor institut
produk air tawar/asin: naga-air tewas kekeringan.”
Isinya
sebagai berikut: “Menurut penuturan seksi polisi ke-6, ditemukan sisa
tulang naga beberapa hari yang lalu di antara semak kolam kota ini di
propinsi Hebei, terkapar di depan lintasan barat laut dan
dipertontonkan kepada umum, telah menimbulkan perbincangan janggal,
daging sempat membusuk, tersisa kerangka tulang belulang saja. Apakah
itu betul-betul tulang naga, masih menjadi perdebatan ramai.”
Kala
itu banyak rakyat percaya bahwa itu adalah sisa jasad tulang naga
sungguhan, tetapi professor tersebut beranggapan ia adalah jenis naga
air, bukannya naga pada umumnya, belum ada definisi tetap.
Dari
dalam foto pers tersebut samar-samar bisa kita lihat, kedua tanduk di
atas kepala naga persis dengan yang dilukiskan di dalam lukisan. Tanduk
tumbuh ke arah belakang, bercabang, mirip tanduk rusa sedangkan di atas
kepala jenis naga-air semestinya tidak punya tanduk.
Dua naga hitam dan putih jatuh di desa Hei Shanzi
4
Agustus 2000, setelah hujan lebat lewat, di desa Hei Shanzi, kota Qing
Long, propinsi Shan Dong, Tiongkok, seluruh desa bagaikan diselimuti
oleh halimun tebal.
Tiba-tiba
awan hitam bergelayut di antara langit dan bumi, dengan gerak
bergejolak naik-turun yang tak pernah disaksikan sebelumnya semua
penghuni rumah menutup rapat pintu mereka tak ada yang berani keluar
rumah.
Seorang
pemuda berani berusia 20-an keluar dari rumah ingin melihat apa yang
terjadi. Ia menjelajahi seluruh desa, selain awan hitam pekat tak
dijumpai hal yang tak lazim. Ia berjalan terus dan se-tibanya di luar
desa, pemandangan di depan matanya membuatnya terperanjat.
Dua
ekor naga masing-masing berwarna hitam dan putih yang terlihat segar
bu-gar sedang selonjor di atas tanah! Ia berjalan mendekati dengan
sangat hati-hati dan mencermati mereka, tanduk, sisik, cakar dan ekor
naga-naga tersebut betul-betul persis seperti di dalam lukisan, hanya
jenggotnya saja yang lebih pendek.
Ia
lantas berbalik arah dan lari kencang, sambil berteriak, “Cepat keluar
lihatlah, naga dari langit jatuh, semuanya cepat lihatlah!”
Setelah
mendengar orang-orang berlarian keluar rumah, dalam waktu singkat,
kabar mengejutkan itu segera tersiar di seluruh pelosok desa.
Dalam
waktu singkat, massa dalam jumlah besar, polisi, pejabat pemerintah
berduyun-duyun membanjiri desa kecil tersebut, dalam sekejap desa Hei
Shanzi menjadi hiruk pikuk. Pakar yang berkaitan dengan bidangnya juga
datang, tetapi mereka mengatakan sejumlah teori yang tak dimengerti
orang-orang dan menyangkal eksistensi naga yang tertampak di depan
mata.
Dengan
cepat polisi menghalau orang-orang pergi, menyisakan ilmuwan menjaga
tempat itu. Justru pada saat penjagaan tersebut, naga putih tersebut
menghilang pada saat segumpal awan hitam datang terpontal-pontal.
Para
petugas tak mampu menjelaskan tentang raibnya si naga putih, juga tak
tahu apa yang harus dilakukan terhadap si naga hitam.
Kala
itu seorang petani tua berusia 70 tahun berkata, “Saya dengar puluhan
tahun yang lalu juga pernah terjadi hal serupa, agar si naga dapat balik
maka orang-orang menyiraminya dengan air.”
Ia
menyuruh beberapa pemuda mengambil beberapa tikar yang dijadikan sebuah
tenda dan menggunakan kendaraan untuk mengangkut air dan menggunakan
slang menyirami tikar tersebut. Dari celah tikar air menetes ke tubuh
sang naga, maka demikianlah si naga dapat bertahan hidup hingga akhir
Agustus 2000.
Berita
itu sempat tersiar di internet. Namun kini penulis berusaha mengecek
berita seputar tanggal dan lokasi kejadian, tak dapat menemukan lagi
pemberitaan yang berkaitan dengan naga. Sepertinya berita sang naga
menampakkan diri telah dengan sengaja diblokir (di RRT berita semua
media sampai kini masih disensor sangat ketat oleh Partai Komunis
China).
Fosil Naga
Selain catatan sejarah, adakah bukti fosil otentik yang bisa membuktikan eksistensi naga?
Pencatatan
dalam kitab-kitab kuno tentang penampakan naga yang kemudian kembali
lagi ke langit, cukup banyak, biasanya dianggap sebagai pertanda baik.
Foto ini merupakan naga yang diawetkan, koleksi kuil Zuiryuji, Osaka,
Jepang.
Ada,
hanya saja sangat jarang ditemukan. Kuil Zuiryuji, Osaka, Jepang,
memamerkan sebuah spesimen naga kecil dengan metode pengawetan kering,
spesimen naga tersebut konon pada zaman dinasti Ming. Tanpa sengaja
telah terjaring nelayan di tepi pantai, kemudian dijual ke Jepang oleh
pedagang Tionghoa dan dibeli oleh 萬代籐兵衛, seorang kolektor terkenal
Jepang.
Ia
menyumbangkannya kepada pihak kuil Zuiryuji yang disimpan hingga saat
ini. Spesimen itu melalui penanganan anti pembusukan, kulit luarnya
dilapisi dengan serbuk emas, di atas kepala naga tumbuh tanduk, terdapat
kumis panjang di sebelah mulutnya, bentuk mata lebar dan besar,
keseluruhan tubuhnya bersisik, sangat mirip dengan naga dari hasil karya
pahatan. Spesimen hanya sepanjang 1 meter, kemungkinan adalah naga muda
yang belum sempat tumbuh besar.
Foto atau film yang berhasil direkam
Meski
terdapat saksi mata naga, akan tetapi disayangkan, nyaris tak ada foto
naga sungguhan yang tersiar. Di internet ada orang yang menyatakan telah
menjepret foto atau film naga beneran, ada sebagian termasuk salah
prediksi atau memang pemalsuan, namun juga ada sebagian yang kemungkinan
adalah riil.
Terdapat
sebuah film konon tentang naga yang terambil gambarnya di saat sebelum
hujan badai di atas danau Gao You – propinsi Jiang Su, di dalam film
tersebut, sedang terjadi pemandangan ganjil “Naga menyedot air”, ada
seekor mahluk berbentuk ular transparan sembari meliuk, ia secepat kilat
menembus lapisan awan ke angkasa, ada yang berpendapat, mahluk tersebut
adalah naga yang menyembunyikan dirinya di balik lapisan awan.
Pada
film lainnya, sang naga juga sama-sama tidak menampakkan wujud aslinya,
dengan berwujud badan transparan ia hanya bergerak di lapisan awan.
Bentuk dan kondisi tubuh transparan tersebut apabila dicermati, termasuk
secara samar-samar dapat terlihat kaki belakang dan tubuh si naga serta
gerakannya sewaktu bergerak, misalnya sembari bergerak sembari terjadi
petir, boleh dibilang sangat mendekati penuturan orang zaman kuno
mengenai naga.
Jika
film-film tersebut layak dipercaya, barangkali bisa memberi sebuah
benang merah bagi kita yakni: sewaktu naga beraktifitas ia eksis dengan
tubuh transparan, kecuali di bawah situasi dan kondisi tertentu, kalau
tidak, sulit terekam oleh kamera.
Perenungan misteri naga
Kesimpulan
dari tulisan di atas, dari catatan pihak pemerintah maupun kalangan
rakyat Tiongkok, penuturan saksi mata dan film sisa jasad tulang naga,
semuanya mengindikasikan jejak eksistensi sang naga, karena itu terlihat
jelas naga bukannya makhluk hidup hasil imajinasi orang zaman kuno.
Sesuai
perkataan beberapa saksi mata berusia lanjut yakni Cai Shoukang, Huang
Zhenfu, Zhang Shunxi dan lain-lain yang menyaksikan dengan mata kepala
sendiri pemandangan gaib “naga terbang di langit” saat peristiwa naga
jatuh di Ying Kou pada 1934.
“Pada
kenyataannya, naga bukan makhluk aneh, mereka itu semacam binatang
langka.” Sesuai pengalaman saksi mata, mereka beranggapan, naga
betul-betul eksis. Dewasa ini terdapat sebagian pakar Tiongkok
menjelaskan peristiwa jatuhnya naga di Ying Kou sebagai kejadian “Ikan
paus terdampar”, di-anggap sebagai omongan yang tidak bertanggung
ja-wab, demikian pendapat para bapak sepuh tersebut.
Saya
beranggapan, pada zaman dahulu sewaktu terjadi penampakan naga di dunia
manusia, tukang kayu maupun batu adalah salah satu penonton dari
sekumpulan massa yang barangkali sama seperti saksi mata zaman kini,
mereka berdasarkan pemandangan yang mereka lihat ini lantas memahat
karya seni.
Naga
sepertinya memiliki kemampuan menglamuflase diri, kecuali ia rela untuk
dilihat, kalau tidak, pada umumnya manusia biasa tak dapat melihatnya.
Dewasa ini di dalam film kadang kala naga digambarkan berupa badan
transparan, ini juga merupakan penyebab kesulitan dalam memperoleh bukti
nyata. Sang naga sepertinya juga bisa memilih apakah ia bisa terlihat
oleh manusia atau tidak.
Persis
seperti yang dikatakan Einstein: “Ada sebagian orang mengira agama
tidak sesuai dengan logika iptek. Saya adalah seorang peneliti ilpek,
saya mengetahuinya dengan sangat jelas, ilmu pengetahuan hari ini hanya
bisa membuktikan eksistensi suatu makhluk tetapi tak mampu membuktikan
ketidak-eksisannya suatu makhluk.”
Apakah
naga itu eksis, barangkali sudah melewati lingkup yang bisa dibuktikan
oleh ilmu pengetahuan empiris, harus menggunakan sudut pandang dan teori
iptek supranatural barulah bisa menjelaskannya dengan sempurna.
Legenda naga sakti dari Timur
Mengenai legenda “naga timur”, terdapat 4 macam teori:
1. Manusia dan naga satu tubuh
Contoh
yang paling gamblang adalah leluhur orang Tionghoa yakni Fu Xi (伏羲)
dan Nu Wa (女媧) diyakini berbadan ular, atau disebutkan bertubuh naga.
Yan Shou (延壽), Raja Han Akhir mencatat di dalam kitab Balairung Persembahan Lu Lingguang (魯靈光殿賦): “Melukis langit dan bumi, terlahir aneka macam makhluk, serba berbaur dan aneh, dewa gunung roh samudera. Zaman dahulu kala serba maha luas, pada awal permulaan dunia, 5 naga membandingkan sayapnya, kaisar manusia berkepala Sembilan, tubuh Fu Xi bersisik, tubuh Nu Wa berwujud ular.”
2. Naga adalah penjelmaan kaisar arif bijaksana:
Tercatat di dalam kitab kuno Pencatatan tahunan Zhu Shu (竹書紀年) dan Shan Hai Jing (山海經):
… terutama dijelaskan, Huang Di, Yao, Shun dan Yu (黃帝、堯舜和禹, para kaisar leluhur pada zaman kuno), pada saat kelahiran dan kemangkatannya selalu naga sakti menampakkan diri dan diyakini sebagai berkah.
3. Naga adalah roh sakti:
Di dalam kitab kuno Shan Hai Jing (山海經) oleh Guo Pu (郭璞) disebutkan:
… di zaman Huang Di dan Nu Wa, “naga” senantiasa membantu penguasa meredakan pemberontakan, dari sini terlihat, “naga” memiliki kekuatan gaib nan sakti.
4. Naga adalah satwa sakti yang dikendalikan dewata:
Yan Shou (延壽), Raja Han Akhir mencatat di dalam kitab Balairung Persembahan Lu Lingguang (魯靈光殿賦): “Melukis langit dan bumi, terlahir aneka macam makhluk, serba berbaur dan aneh, dewa gunung roh samudera. Zaman dahulu kala serba maha luas, pada awal permulaan dunia, 5 naga membandingkan sayapnya, kaisar manusia berkepala Sembilan, tubuh Fu Xi bersisik, tubuh Nu Wa berwujud ular.”
2. Naga adalah penjelmaan kaisar arif bijaksana:
Tercatat di dalam kitab kuno Pencatatan tahunan Zhu Shu (竹書紀年) dan Shan Hai Jing (山海經):
… terutama dijelaskan, Huang Di, Yao, Shun dan Yu (黃帝、堯舜和禹, para kaisar leluhur pada zaman kuno), pada saat kelahiran dan kemangkatannya selalu naga sakti menampakkan diri dan diyakini sebagai berkah.
3. Naga adalah roh sakti:
Di dalam kitab kuno Shan Hai Jing (山海經) oleh Guo Pu (郭璞) disebutkan:
… di zaman Huang Di dan Nu Wa, “naga” senantiasa membantu penguasa meredakan pemberontakan, dari sini terlihat, “naga” memiliki kekuatan gaib nan sakti.
4. Naga adalah satwa sakti yang dikendalikan dewata:
Legenda Li Bai menaiki naga menuju langit.
Menurut
legenda, permaisuri raja Tai Zhen, mahir bermain kecapi, setiap kali
main, suaranya merdu sehingga burung-burung berdatangan, sering kali ia
menaiki naga putih untuk berkelana ke 4 samudera.
Xiao Shi, mahir
bersiul. Kaisar Qin Mugong (秦穆公) menikahkan Nong Yu, sang puteri
kepadanya. Xiao Shi mengajarkan isterinya bermain musik, tatkala
bermain, ada burung Hong terbang berkunjung dan hinggap di atas loteng,
Mugong mendirikan podium burung Hong untuk mereka berdua. Kemudian Nong
Yu menunggang burung Hong, sedangkan Xiao Shi menaiki naga dan mereka
terbang ke atas serta menuju dunia atas.
Li Bai, sang penyair
tersohor, konon pada saat berbincang santai dengan seorang tosu (pertapa
taoisme) di atas gunung, baru selesai berbincang, ada orang yang
menyaksikan, mereka berdua di tengah awan, bersama-sama mengendarai sang
naga menuju langit.
Legenda naga jahat dari Barat
1. Naga si binatang raksasa penjaga pusaka:
Rafael melukis 2 lukisan cat minyak mengenai St. George memerangi naga jahat. (INTERNET)
Syair narasi yang ditulis pada abad ke-8, Beowulf, adalah lembaran tertua dari dongeng yang tercatat dalam bahasa Inggris kuno.
Cerita
dicatat dari Eropa Utara, pahlawan Beowulf di dalam perang memperoleh
kemenangan dan telah mempertahankan pemerintahannya selama 50 tahun,
oleh karena seekor naga raksasa penyembur api yang dulunya beristirahat
dan menjaga pusaka negara selama 300 tahun, sekali lagi melancarkan
serangan. Ia ber- perang melawan sang naga raksasa dalam 3 babak,
akhirnya si naga terpenggal kepalanya, tetapi Beowulf tergigit oleh si
naga raksasa hingga terluka dan cairan racun mematikan telah mengalir di
dalam tubuhnya, dan ia meninggal.
Beowulf menjadi pahlawan
pembantai naga, sedangkan image negatif naga di dunia barat dengan
demikian telah terpateri di dalam memori orang Barat.
2. Naga adalah penjelmaan iblis dan setan:
Di bab 12, paragraf 7–9 Apocalypse Perjanjian Baru:
“Di
langit terjadi perang. Michael beserta pasukannya bertempur dengan
naga. Si naga juga bertempur beserta kelompoknya. Tidak memperoleh
kemenangan maka di langit tiada tempat lagi bagi mereka. Naga raksasa
adalah ular kuno tersebut. Juga dinamakan iblis, atau setan, bertugas
menyesatkan dunia. Ia dilempar ke atas tanah, beserta kelompoknya.”
Di
dalam Alkitab, naga dipandang sebagai iblis, setan, siluman. Bagi orang
Eropa (kuno) yang memandang pemikiran agama Kristen sebagai
satu-satunya literatur yang benar, maka naga berubah menjadi makhluk
yang membuat sengsara umat manusia, ditakuti orang pada umumnya.
Di
dalam Apocalypse, naga memiliki 7 kepala dan 10 tanduk, bisa
menyesatkan hati orang dan membuat orang memasuki jalan kejahatan, 7
kepala melambangkan 7 dosa besar yang mutlak tak boleh dilanggar, 10
tanduk melambangkan 10 dosa kecil yang kemungkinan telah dilanggar.
Orang berdosa yang terpikat dan melakukan pelanggaran bersama-sama dengan naga akan dimasukkan ke dasar neraka.
3. Tersebarnya kisah legenda pembunuh naga:
Catalonia,
Spanyol, di abad pertengahan asalnya adalah sebuah tanah yang subur,
naga raksasa yang bisa terbang dan menyelam telah memusnahkan segalanya.
Agar rakyat dapat hidup, setiap hari mereka mengantarkan seorang gadis
muda dipersembahkan kepada naga raksasa.
Pada suatu hari, sang
puteri cantik juga tak luput menjadi tumbal, seorang pendekar dari
Inggris yang pandai bertempur, dengan segala daya berduel dengan sang
naga, ia menggunakan pedang menusuk jantung si naga raksasa, dalam
sekejap darah segar menyembur keluar dari tubuh sang naga dan telah
membasahi rerumputan di sekitarnya, akhirnya di atas rumput telah
bertumbuhan bunga-bunga mawar merah.
Pendekar yang perkasa telah
menyelamatkan sang puteri, ia memetik salah satu bunga merah itu dan
diberikan kepada puteri cantik, kedua orang tersebut bersumpah untuk
cinta yang abadi.
Naga Timur Berwibawa Dan Penuh Berkah.
Naga
menjadi salah satu logo Tiongkok, di dalam pameran Expo Aichi – Jepang
pada 2005, di atas dinding pavilion stand Tiongkok terlukis sang naga.
Bentuk luar naga timur bisa kita simak dari kitab kuno zaman dinasti Song, “Er Ya Yi 爾雅翼”yang memberi penjelasan sbb.: “Bentuk lukisan naga tradisional, dikatakan terdapat 3 stop dan 9 mirip, yakni, Dari kepala hingga pundak, dari pundak hingga pinggang, dan dari pinggang hingga ekor, dinamakan saling stop. 9 mirip ialah: Tanduk mirip rusa, kepala mirip unta, mata mirip setan, leher mirip ular, perut mirip kerang, sisik mirip ikan carp, cakar mirip elang, telapak mirip macan, telinga mirip sapi.” Selain itu, Dong Yi di dalam kitab “Kumpulan pedoman melukis naga”mengatakan: “9 mirip ialah: Kepala mirip sapi, mulut mirip keledai, mata mirip udang, tanduk mirip rusa, telinga mirip gajah, sisik mirip ikan, jenggot mirip manusia, perut mirip ular, kaki mirip burung Hong”. Jadi wajah naga timur secara keseluruhan berwujud sangat belas kasih dan berwibawa.
Pernak-pernik
“naga”, dimulai dari perhiasan giok, tembikar dll semenjak zaman kuno,
sudah dipergunakan secara massal, bahkan kemudian kesenian di dalam
kaligrafi, melukis, busana dll, meski bentuk naga mengikuti perkembangan
setiap dinasti, terdapat pula beberapa perubahan yang berbeda, tetapi
perlambang dongeng“naga”, di dalam hati orang Tionghoa, senantiasa
mempunyai posisi yang tak tergoyahkan. Kehidupan keseharian seseorang,
tak lepas dari sandang, pangan, papan dan bepergian, nyaris semuanya
tertera stempel kebudayaan naga, sudut pandang kebudayaan naga dan
kesadaran estetika kebudayaan naga, semuanya telah meresap di berbagai
wilayah dan berbagai bidang kebudayaan masyarakat.
Bahkan
pengaruh itu meliputi seluruh bangsa Asia, termasuk Jepang dan Korea
serta wilayah pemukiman dan kota Pecinan yang ditempati perantau
Tionghoa di berbagai negara dunia. Setiap tempat yang bersentuhan dengan
kebudayaan Tionghoa tak luput dari eksistensi naga ini.
Naga Barat Yang Jahat dan Buruk Rupa
Penampilan naga jahat penyembur api sesuai legenda barat.
Naga
barat memiliki tubuh yang kekar, leher yang panjang dan kasar, memiliki
tanduk atau kepala yang bergerigi, gigi yang runcing, dan sebuah ekor
berbentuk anak panah panjang. Ia melangkahkan kakinya dengan kuat dan
kokoh, menggunakan sepasang sayap raksasa bak sayap kelelawar untuk
terbang, seluruh tubuhnya dipenuhi dengan sisik yang melindungi tubuh.
Matanya terbentuk dari 4 lapis kelopak, 3 diantaranya transparan, bisa
melindungi mata dari gangguan, telinga bisa digerakkan buka-tutup,
tetapi tidak semua naga memiliki daun telinga. Gigi yang runcing dan
tajam biasanya bisa ditarik melengkung ke dalam guna merobek mangsanya.
Tanduknya memiliki cakar. Dus, tampang naga barat secara keseluruhan
berpenampilan jahat dan mengerikan.
Orang Tionghoa di
daratan sekarang menyebut PKC (Partai Komunis China) sebagai naga merah
yang jahat. Karena PKC haus darah dan kekerasan disamping gemar
mengenakan lambang warna merah dan dengan brutalnya menindas rakyat
sendiri, terutama manusia yang beriman. Gereja rumahan di Tiongkok
daratan merasakan sendiri kejahatan si naga merah dan pada umumnya
menganggap PKC adalah naga merah raksasa sesuai yang ditulis di
“Apocalypse.” – Alkitab. Sejumlah besar kultivator juga berpendapat
mundur dari organisasi PKC dapat menghapus stempel hewan “naga merah”
PKC yang di-stempelkan pada manusia. Sesuai “Alkitab”, setan dan iblis
akan dimusnahkan pada saat pengadilan terakhir, stempel hewan ini adalah
surat jalan turun ke neraka bersama dengan setan iblis. Ini juga
membuktikan partai komunis bukanlah bagian dari kebudayaan Tiongkok, ia
sesungguhnya adalah produk yang disiarkan dari barat.
Peranan Naga Di Barat dan Timur
Totem
naga yang digunakan oleh para kaisar zaman kuno dan rakyat jelata
dibedakan dengan jumlah cakar/kaki naga. Naga sebelum zaman dinasti Tang
(abad ke 7-10) bukan monopoli kaisar, itulah sebabnya rakyat pada
umumnya diperkenankan menggunakan 3 kaki naga yang kala itu biasa
digunakan.
Pada masa
dinasti Song (960-1279), secara mencolok naga telah menjadi perlambang
monopoli kaisar, “wujud naga dimuliakan”, istana memerintahkan
pelarangan penggunaannya bagi rakyat dan pejabat. Tetapi di dalam
kehidupan sehari-hari naga tetap berperan sangat penting dalam
pemanjatan doa, permohonan hujan dll, sehingga pelarangan secara total
penggunaan logo naga di kalangan rakyat menjadi tidak mungkin, maka
dilakukan siasat pembagian terhadap peran naga, kalangan rakyat mulai
menggunakan Chi 螭 (naga legendaris tanpa tanduk) menggantikan naga.
Pada
dinasti Yuan (1206-1368), pemerintah malah melarang pejabat dan rakyat
menggunakan naga berkaki lima dan bertanduk sepasang sebagai
perhiasan/dekorasi, meski dilarang-larang, namun pelanggaran marak
terjadi, di bawah keterpaksaan, pemerintah akhirnya mengalah,
memperkenankan pengurangan satu kaki sebagai pembedaan, itulah mengapa
pada zaman dinasti Yuan terdapat naga dengan wujud 3, 4 atau 5 kaki.
Pada
awal dinasti Ming (1368-1644), di bawah ketetapan khusus pendiri
dinasti Ming, Zhu Yuanzhang, dilakukan 2 pembagian, bentuk naga dengan 5
kaki hanya melambangkan image kaisar sedangkan naga berkaki 3
dipergunakan bagi rakyat, situasi pengurangan satu kaki sebagai makhluk
Chi/phyton sampai pertengahan dinasti Ming baru ditemukan. Pada masa
pemerintahan dinasti Qing, ditentukan pemerintah, naga tetap naga,
Chi/python tetap Chi/phyton, perbedaan antara keduanya hanya pada satu
kaki saja.
Naga
timur adalah makhluk surgawi sakti yang mendampingi dewata naik ke
langit dan menyebarkan konsep agama Buddha dan Dao, dimana manusia mampu
berkultivasi hingga memperoleh buah sejati (hasil akhir sejati), dengan
mengendarai dan diantar naga menjadi Buddha dan Dewa naik ke langit.
Naga barat adalah penjelmaan setan yang menggoda manusia untuk berbuat
dosa dan masuk ke neraka, serta memerangi Tuhan, berlawanan dengan Tuhan
yang menghendaki manusia harus waspada untuk tidak melanggar
pelarangannya, agar jangan tergoda untuk melakukan dosa. Peran yang
dimainkan oleh naga barat dan timur bertolak belakang, tetapi semuanya
berkaitan dengan ajaran ketuhanan, dari sini terlihat hubungan naga
dengan Tuhan selamanya tak bisa dipisahkan, hanya tergantung peran
berlawanan atau berdampingan.
Di
dalam zaman globalisasi ini, kebudayaan barat dan timur saling
berbenturan dan menyelaraskan, apabila orang barat dikarenakan perbedaan
kebudayaan kemudian salah paham terhadap naga timur, kita seyogyanya
menggunakan semacam sikap yang lebih lapang dada dalam menghadapinya.
Demikian para pembaca... saya ucapkan terima kasih telah membaca
sekian kisah tentang Naga mungkin juga para pembaca ada yang bisa menambahkan
cerita tentang Guci berbentuk Naga/Dragon yang dilambangkan pada Penyimpan Abu
Jenazah tersebut diatas atau kalau pun ada para pembaca yang mengerti benar
tentang Sejarah Pendaratan China
Pertama di Singkawang silahkan dilink ke blog
ini, karena menurut cerita pemilik Guci Giok Penyimpan Abu Jenazah (3 fotho
diatas) masih ada kaitannya dengan Kisah Pangeran China yang meninggal di
Singkawang.


